Postingan

Menampilkan postingan dengan label BULLETIN

KAFIR TETAPLAH KAFIR

Gambar
Istilah Muslim dan kafir adalah istilah yang sejak awal digunakan oleh al-Quran. Istilah ini murni digunakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya untuk membedakan kaum yang beriman dan kaum yang ingkar. Selama berabad-abad, penggunaan kata kafir untuk menyebut orang-orang di luar Islam nyaris tidak pernah menimbulkan problem. Baik di internal umat Islam sendiri maupun di kalangan eksternal non-Muslim. Para ulama sejak dulu juga biasa menggunakan istilah kafir di dalam kitab-kitab mereka untuk menyebut orang-orang non-Muslim. Apalagi penggunaan istilah kafir terkait erat dengan banyak persoalan fikih, dengan segala implikasi hukumnya. Muncullah, misalnya, kategorisasi istilah kafir menjadi: kafir harbi, kafir dzimmi, kafir mu’ahad dan kafir musta’man. Masing-masing tentu diperlakukan secara berbeda secara fikih. Masalah ini sudah banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih para ulama sejak lama. Kafir dzimmi, misalnya. Mereka adalah non-Muslim yang menjadi warga negara Da...

BUANG ‘ASHABIYAH, REKATKAN UKHUWAH

Hari-hari terakhir ini umat tengah dilanda musibah yang tak kalah membuat resah. Tak kalah membuat sedih dibandingkan dengan gempa bumi dan tsunami. Musibah yang dimaksud adalah makin rapuhnya ukhuwah islamiyah dan makin menguatnya ‘ashabiyah. Karena ‘ashabiyah, antarkelompok umat Islam bisa saling mem-bully. Karena ‘ashabiyah mereka bisa saling mencaci. Karena ‘ashabiyah pula mereka bahkan bisa saling mempersekusi. Semua itu acapkali dibumbui oleh slogan-slogan nasionalisme, fanatisme organisasi, sentimen mazhab dll. Singkatnya, saat ini sikap ‘ashabiyah begitu mendominasi. Sebaliknya, akhuwah islamiyah seolah makin tereliminasi. Di Tanah Air, slogan “NKRI harga mati”, misalnya, seolah cukup menjadi alasan bagi sekelompok umat Islam untuk menista kelompok umat Islam lain yang menyerukan penerapan syariah Islam. Seolah-olah penerapan syariah Islam akan menghancurkan negeri ini. “Saya Pancasila” juga seperti menjadi slogan sakti untuk mempersekusi siapa saja yang dituding anti Panc...

MALAPETAKA RUNTUHNYA KHILAFAH

Malapetaka Runtuhnya Khilafah Adalah hal yang wajar dan alami jika seseorang merasa sedih, merasa kehilangan saat miliknya yang berupa materi, yang terkait langsung dengan dirinya lenyap. Berbeda dengan kehilangan sesuatu yang sifatnya non materi, atau materi yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya, dalam hal ini memerlukan kesadaran yang lebih untuk sekedar merasakan kehilangan. Oleh sebab itu dapat kita saksikan sebagian orang merasa marah ketika sandalnya dicuri, namun tak masalah kalau tambang emas yang besar dikuasai asing. Orang mudah merasa kehilangan jika anak dan motornya hilang karena keganasan para pembegal, namun tidak merasa ketika kehilangan sistem aturan yang karena ketiadaannya memudahkan mengganasnya para pelaku kriminal. Pada bulan Rajab, tepatnya pada 28 Rajab 1342 H bersamaan dengan 3 Maret 1924, institusi Khilafah yang menerapkan syariah Islam dan menyatukan umat runtuh. Walaupun sudah lebih dari 91 tahun, mungkin masih ada yang bertanya, apa ...

SYARI'AH LEBIH PENTING DIBANDINGKAN BERNAFAS SEKALIPUN

Syari’ah Lebih Penting Dibandingkan Bernafas Sekalipun Ketundukan kepada syari’ah Allah swt, disamping itu merupakan manifestasi kecintaan kepada-Nya, bukti keimanan kepada-Nya, juga merupakan kebutuhan manusia itu sendiri kepada Allah swt, sementara Allah sama sekali tidak berhajat kepada ketaatan makhluk-Nya. Imam Ibnu Qayyim Al Jawziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya, Miftâhu Dâri as Sa’âdah , juz 2 hal 318 menyatakan: وَالْحَاجة (إلى الشريعة أشد من الحاجة) إِلَى التَنَفُّسِ فضلا عَن الطَّعَام وَالشرَاب، لِأَن غَايَةَ مَا يُقَدَّرُ فِي عدم التنفس وَالطَّعَام وَالشرَاب موتُ الْبَدَن وتعَطُّلُ الرّوحِ عَنهُ، وَأمّا مَا يُقَدَّرُ عِنْد عدم الشَّرِيعَةِ ففسادُ الرّوحِ وَالْقلبِ جملَةً وهلاك الْأَبَدِ “Dan kebutuhan (terhadap syari’ah adalah lebih besar daripada kebutuhan) terhadap bernafas, apalagi daripada makanan dan minuman, karena sesungguhnya batas akhir yang akan terjadi dalam ketiadaan bernafas, makan maupun minum adalah matinya badan dan terlepasnya ruh darinya....

SYARI'AH & KHILAFAH UNTUK RAHMATAN LIL 'AALAMIIN

Negeri kita saat ini sedang berada dalam cengkeraman neoimperialisme (penjajahan gaya baru) dan neoliberalisme (liberalisme model baru). Musibah dan bencana yang timbul karena neoimperialisme dan neoliberalisme sudah sedemikian berbahaya dan meluas. Karena itu cengkeraman neoimperialisme dan neoliberalisme harus segera dihentikan. Negeri kita ini harus segera diselamatkan. Namun, umat tidak boleh berharap solusi pada demokrasi dan kapitalisme. Pasalnya, neoimperialisme dan neoliberalisme tidak bisa dipisahkan dari demokrasi dan kapitalisme. Jalan keluar dan solusi atas semua itu tidak lain adalah penerapan syariah Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah ar-Rasyidah.   Khilafah Pasti Tegak Tegaknya Khilafah ar-Rasyidah memang bukan perkara mudah. Berbagai hambatan, tantangan, gangguan dan rintangan selalu menghadang. Namun, semua itu pasti bisa diatasi dan Khilafah ar-Rasyidah pasti tegak kembali. Tegaknya Khilafah ar-Rasyidah adalah janji Allah SWT dan ...